KARYANEWS.id, Maros – Anggota DPR RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Riset dan Inovasi untuk Masyarakat dengan tema Pelatihan Pengelolaan Bisnis Skala Rumah Tangga di Aula Grand Town Hotel Mandai, Kabupaten Maros, Senin (9/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PKB, Andi Muawiyah Ramly yang akrab disapa Amure, Staf Ahli Djohansyah yang akrab di sapa bang Dhjo, serta narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Rachmat.
Acara dipandu oleh MC Takbir Abadi, salah satu tokoh pemuda Kabupaten Maros, dengan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan masyarakat yang tertarik mengembangkan usaha skala rumah tangga.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan rombongan Amure dan perwakilan BRIN melalui tabuhan gendang tradisional, dilanjutkan pertunjukan budaya A’ngaru, serta tari penyambutan Paduppa.

Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan secara resmi, Amure menegaskan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha rumah tangga agar mampu meningkatkan perekonomian keluarga.
Menurutnya, pelatihan seperti ini menjadi bekal penting bagi masyarakat untuk memahami konsep bisnis secara benar sebelum memulai atau mengembangkan usaha.
“Bisnis rumah tangga bisa menjadi sumber tambahan ekonomi keluarga. Karena itu perlu dibekali dengan pengetahuan dan teori yang tepat dari para pemateri,” ujar Amure.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kabupaten Maros atas dukungan yang diberikan kepadanya sehingga kembali dipercaya menjabat sebagai anggota DPR RI untuk periode kedua ini.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Maros atas dukungannya sehingga saya bisa terpilih kembali untuk dua periode,” tambahnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa dan pemaparan materi oleh narasumber dari BRIN, Arief Rachmat. Dalam materinya, ia menjelaskan berbagai strategi dasar dalam memulai dan mengelola bisnis secara berkelanjutan.
Arief menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi perusahaan membuka peluang kerja, namun di sisi lain juga bisa terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan berwirausaha secara mandiri.
“Memulai bisnis sebaiknya dari apa yang kita miliki dan apa yang kita sukai. Jangan hanya ikut-ikutan karena melihat tetangga berhasil,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menetapkan target usaha, fokus pada tujuan bisnis, serta membangun tim kerja yang solid. Menurutnya, salah satu faktor yang sering merusak bisnis adalah buruknya komunikasi dalam tim.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta juga dibekali pemahaman mengenai strategi bisnis yang dapat diterapkan pada usaha yang sudah berjalan maupun yang baru akan dirintis.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber terkait penguatan usaha masyarakat. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan seputar pengembangan usaha skala rumah tangga.
Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama antara peserta, narasumber, dan panitia sebagai penutup kegiatan.













